Senin, 26 September 2011

Resensi : CEH 100% illegal

Judul         : Certified Ethical Hacker
Penulis      : Susanto a.k.a S’to
Penerbit    : Jasakom


Wah, masih semangat nulis. Mumpung masih semangat saya akan coba nulis lagi, tapi kali ini bukan review film tetapi review sebuah buku. Tanpa basa-basi yang kalo kebanyakan jadi basi, let’s to the point.

Buku yang akan saya resensi ini merupakan seri pertama dari….(saya tidak tahu sampai berapa seri buku ini tamat), makanya diberi subjudul 100% illegal. Mungkin seri berikutnya 200%, 300%, dst.
Saya memang dari kelas 1 SMP sudah tertarik dengan masalah web security. Maka dari itu pula saya tertarik membeli buku ini, karena saya sudah punya setumpuk buku terbitan Jasakom dan selama yang saya baca, isi bukunya memang berkualitas, mudah dimengerti dan tidak cepat basi.


Dalam buku ini, seperti kebanyakan buku pembuka dari sebuah serial buku, penulis menerangkan tentang terminologi-terminologi dasar, element-element keamanan jaringan, dll.
Buku ini sangat bagus dan mendetail dalam setiap pembahasannya, kertasnya bagus (tidak mudah sobek dan kusam), jenis huruf yang digunakan sangat pas, dan terdapat gambar-gambar untuk mempermudah penjelasan dan sedikit gambar-gambar lucu tapi agak nyindir. Menurut saya, jika anda memebeli buku ini anda tidak akan rugi, karena buku ini menerangkan konsep. Bukan cara pintas atau cara mudah seperti buku-buku lain yang ketika sistem diupdate maka cara pintas/mudah tersebut akan segera basi.
Lain dengan buku ini, selain menerangkan cara dan tools, anda akan diajari konsep-konsepnya secara mendetil sehingga bisa anda gunakan apapun. Sisanya tinggal anda berkreasi sendiri.

Buku ini berjargon “Jika anda ingin menghentikan hacker, anda harus bisa bertindak dan berlaku seperti hacker”. Jadi, saya sangat merekomendasikan serial dari buku ini untuk anda yang tertarik dengan keamanan jaringan karena buku ini mudah dipahami dari segi bahasa (denger-denger sih, penulis buku ini belum ngerti EYD. Jadi bahasanya agak ngawur) 
Sekian review acak-acakan ala newbie.
Read More..

Minggu, 25 September 2011

3 of 3 memorable movie : Pintu Terlarang a.k.a The Forbidden Door

Sutradara Joko Anwar
Produser Sheila Timothy
Penulis Joko Anwar
Pemeran Fachri Albar
Marsha Timothy
Ario Bayu
Otto Djauhari
Tio Pakusadewo
Henidar Amroe
Musik oleh Aghi Narottama
Bemby Gusti
Ramondo Gascaro
Sinematografi Ipung Rahmat Syaiful
Penyunting Wawan I Wibowo
Distributor Lifelike Pictures

Kita sampai di akhir dari trilogi film yang paling memorable versi saya.
Sebenarnya saya ingin sekali mereview film ini dengan tulisan dan gaya saya sendiri. Tapi apadaya, film ini terlalu sulit untuk saya deskripsikan karena ceritanya sangat banyak "twist"nya.
Saya sangat sakit hati setelah menonton film Indonesia yang satu ini. Film ini "sakit", dalam arti menurut tafsiran saya, saya tidak merasa nonton film Indonesia saat menonton film ini.
Ini adalah film Indonesia yang paling wajib ditonton menurut saya. Sayapun rela membeli vcd dan dvd originalnya yang menurut saya harganya termahal diantara film-film Indonesia lainnya.
Tanpa panjang lebar, mari ikuti review yang agak panjang dan bikin kesel ini.



Hanya karena dia memandang kamera, bukan berarti dia sedang bicara padamu!

(Dandung, Pintu Terlarang)



Pintu Terlarang : Kamera sebagai Jarak Mutlak

oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta


1.

Membaca film ini harus dimulai dari membaca Joko Anwar, sang sutradara dan penulis film ini. Dari keseluruhan karya Joko sejauh ini, termasuk karya-karya skenarionya yang disutradarai oleh orang lain (seperti fiksi., Quickie Express, dan Jakarta Undercover), segera tampak sebuah paradoks jarak.

Joko adalah seorang yang punya pengamatan tajam terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia, misalnya, bisa membedah tipologi dan perilaku penonton bioskop kita dalam Janji Joni. Atau, tipologi lantai-lantai sebuah rumah susun dan polah unik sebagian penghuninya dalam fiksi. yang disutradarai Mouly Surya. Atau, ia mampu menggambarkan betapa sebelum jadi gigolo, tokoh Jojo dalam Quickie Express adalah tukang tambal ban.

Perhatikan juga kegemarannya untuk membuat adegan kejar-kejaran di dalam gang atau ruang kota yang sempit: Joko punya kesadaran ruang yang tinggi terhadap kotanya, Jakarta. Perhatikan bagaimana tokoh Alisha dalam fiksi. menguntit tokoh Bari, dan kita pun dibawa (oleh Joko, juga Mouly) mengalami sebuah transisi ruang kota yang cukup mengesankan dari ruang steril seorang putri aparatus Orba ke ruang riuh rumah susun murah di tengah kota Jakarta.

Tapi, Joko adalah juga seorang sutradara muda kita yang mampu sepenuhnya mempersetankan “realitas”, penuh sadar membuat karya-karya eskapis, berjihad memperjuangkan style di atas segalanya. Demikianlah Kala diciptakan.

Dalam film yang tak banyak ditonton (tapi banyak dibicarakan) itu, Joko menciptakan sebuah dunia yang keluar dari dunia keseharian penonton. Sebuah dunia dongeng murni, dunia eskapisme murni, dunia yang memutlakkan Joko sebagai Sang Pencipta, sehingga Joko bisa leluasa menekuk-nekuk plot dan nasib para tokohnya. Dunia yang matang secara teknik-visual, dunia rekaan yang menyatakan dengan gamblang dambaannya pada gagasan-gagasan teknik-artistik nun di Hollywood sana (noir lah, genre-bending lah).

Dengan kata lain, Joko menciptakan jarak dengan dunia para penontonnya. (Dan, jangan salah: Joko sudah punya penontonnya sendiri –mereka yang fanatik terhadap film-film Joko. Artinya? Ada saja yang rela dibetot Joko dari dunia keseharian mereka, dari “realitas”, dan dibawa serta dalam fun ride di “rumah hantu” ciptaan Joko.)

Dan itu semakin kuat dinyatakan Joko lewat permainan gagasannya tentang “kamera”, “penonton”, “menonton”, dan “kenyataan”, dalam Pintu Terlarang ini. Dalam film ini, jarak sungguh mutlak dalam relasi dunia penonton dengan dunia rekaan Joko.


2.

Pintu Terlarang adalah sebuah film thriller/slasher berdasarkan cerita dari novel Sekar Ayu Asmara. Sensasi terbesar film ini adalah adegan-adegan sadisnya. Ada enam orang disembelih dalam film ini, disorot kamera secara frontal, sehingga jelas belaka darah yang meleleh dan menyembur keluar. Sebuah adegan menggambarkan pecahan otak di atas meja. Sebuah adegan memperlihatkan mata yang dibenamkan dalam pecahan gelas. Juga: beberapa adegan yang melibatkan janin bayi yang berlumur darah aborsi.

Ada misteri. Ada cerita berbau teori konspirasi. Ada nuansa cerita hantu pula. Pada akhirnya, ini adalah sebuah cerita drama-psikologis. Dan, Fachry Albar boleh lah aktingnya, memerani sebuah rentang emosi dan persimpangan-persimpangan psikologis yang sukar. Ketakjelasan artikulasinya termaafkan oleh pembawaan tubuhnya yang cukup “bermain” –terutama di adegan klimaks yang wah itu.

Saya tak ingin menulis tentang itu semua. Saya ingin menekuri sebuah hal saja dari film ini: gagasan Joko tentang (retorika) kamera dalam film ini. Dan memang, di awal film kita disuguhi sebuah adegan yang terekam dalam kamera berderau (ber-noise), seperti kamera CCTV atau kamera pengawas yang di-blow up ke ukuran layar bioskop.

Adegan yang direkam kamera pengawas itu adalah adegan sebuah keluarga batih yang terdiri dari ibu, ayah, dan seorang anak lelaki, yang melakukan kekerasan domestik. Sang ibu tampak stress, mudah marah, dan cenderung melampiaskan emosinya pada si anak. Sang ayah hanya diam, tapi biasanya “membantu” si ibu melakukan kekerasan pada si anak.

Mengapa kita secara segera “mengetahui” bahwa itu adalah kamera pengawas? Di samping karena distorsi derau yang menyebabkan gambar kurang sempurna atau kurang tajam, yang biasanya mengindikasikan kamera beresolusi rendah yang biasa digunakan untuk kebutuhan pengawasan/pengintaian itu, sudut-sudut kamera juga tampak berada di pojok-pojok khas tempat kamera pengintai dipasang.

Adegan-adegan dalam kamera pengintai itu merekam liyan (the other) bagi tokoh utama kisah film ini, seorang pematung sukses bernama Gambir (Fachry Albar). Keluarga “gila” itu adalah (ini tampak dalam penataan ruang dan kostum mereka) keluarga “biasa” dalam masyarakat kita. Tidak miskin-miskin amat, tapi jelas jauh dari kaya. Ketika dunia si anak itu mampir ke pintu rumah Gambir, Gambir yang merasa dijahili memaki, “Anak kampung!”

Gambir, dan istrinya, Talyda (Marsha Timothy), serta dunia mereka, sebetulnya adalah liyan bagi kebanyakan penonton film Indonesia. Mereka adalah tokoh-tokoh molek di sebuah dunia jet set Indonesia, yang mampu menjual-beli patung seharga 3-5 milyar rupiah. Tapi, bagi Gambir dan dunianya, Joko menyediakan kamera tajam dan bersih untuk menjadikan dunia itu poros “kenyataan” film ini.

Dengan kata lain, dunia Gambir dan dunia si anak yang disiksa berada dalam jarak amat jauh, sebetulnya. Jarak itu terjembatani oleh peristiwa-peristiwa berbau supranatural dan oleh kamera pengawas/pengintai itu. Terutama kamera. Kamera lah yang memungkinkan Gambir melihat apa yang terjadi pada si ”anak kampung” dan keluarganya. Kamera lah yang memastikan bahwa si ”anak kampung” dan keluarga kejamnya memang ada.

Kamera pula yang menghalangi Gambir menemui si ”anak kampung”. Karena, kamera tak menyajikan keterangan apa-apa. Ia hanya merekam yang di hadapan, dan ketika kamera ditempatkan statis macam kamera pengawas atau pengintai itu, maka ia tak ingin tahu lebih jauh. Ia tak mencari alamat si ”anak kampung”. Ia hanya merekam ”kenyataan” sekeping sekeping. Ia menampakkan semua yang tertangkap matanya, tapi juga tak menyajikan apa-apa yang penting (atau, apakah ”penting” bagi kamera dalam Pintu Terlarang?).

Kamera hanya merekam, dan televisi menyampaikan. Dan jarak pun menjadi mutlak: Gambir hanya bisa menonton penyiksaan itu. Ia hendam, tak berdaya. Kenapa? Kenapa pula ia terdesak merasa harus menonton lagi adegan-adegan penyiksaan yang perih itu?

Di sini, Joko mulai masuk ke wilayah permainan makna ”menonton” dan “penonton”. 


3.

Menonton adalah sebuah perilaku amoral –dalam arti, tak bisa dinilai secara moral. Atau kurang lebih begitu. “Kita cuma menonton!” kata Dandung (Ario Bowo), sahabat Gambir, ketika Gambir marah karena Dandung mengajaknya menonton beberapa perilaku menyimpang hasil intaian beberapa kamera di entah di mana, di klub Herosase.

Mempertanyakan moralitas aktivitas menonton –inilah persoalan yang dengan kuat dimunculkan oleh Peeping Tom, sebuah film karya Michael Powel pada 1960. Film itu, yang menuai cercaan pada saat beredar tapi dianggap mahakarya setelah lama kemudian hingga sekarang, mengisahkan seorang pembunuh serial, Mark Lewis (Carl Boehm), yang menggunakan tripod kameranya yang dilengkapi senjata tajam untuk membunuh gadis-gadis muda. Tujuan kamera sebagai alat pembunuh itu adalah untuk sekalian merekam ekspresi penuh teror para korban.

Peeping Tom diedarkan sebulan sebelum karya sutradara Inggris lain menuai sensasi, Psycho (Alfred Hitchcock). Kenapa Psycho disambut, dan Peeping Tom disalib? Beberapa pengamat menunjuk salah satu sebabnya adalah pengambilan sudut pandang kamera pembunuh beberapa kali, yang memaksa para penonton film ini menjadi voyeur (pengintip) juga, seperti si pembunuh di layar lebar itu. Penonton dibetot untuk mengalami sudut pandang sang pembunuh. Penonton ditempatkan “menikmati” kamera yang membunuh itu.

(Kamera yang membunuh. Hm. Walau secara harfiah, itu yang memang kurang lebih terjadi dalam Peeping Tom, tapi perhatikan betapa metaforis gambaran itu! Betapa banyak kemungkinan makna dari pilihan Powel menjadikan kamera sebagai pembunuh!)

Persis kenikmatan mengintip, menonton, semacam itu yang digambarkan sebagai perilaku dekaden golongan superkaya di Pintu Terlarang. Orang-orang “atas angin” ini diam-diam berkumpul di klub rahasia dalam gedung Herosase, dan membayar mahal untuk hiburan eksklusif yang tersedia di daftar menu di kamar tertutup: seorang nenek merajut yang menjahitkan tangannya ke rajutannya, dan seorang anak yang disiksa. Lalu, seolah sedang bicara daftar makanan yang baru dicicipi di sebuah restoran baru, sekelompok orang kaya bicara tentang berbagai perilaku menyimpang itu di galeri. Mereka membahasnya, menganalisanya, sambil tampak pula keasyikan mereka mencicipi buah terlarang nan eksklusif itu.

Kalau kita perhatikan, mengapa mereka bisa dengan asyik menganalisa berbagai perilaku kekerasan dan menyimpang itu –tak lain karena semua itu mereka saksikan di televisi. Kamera dan alat video memberi mereka jarak yang aman untuk bisa melihat tanpa jadi “kotor” karena terlibat. Mereka bisa menganalisa moralitas para pelaku perilaku menyimpang itu, tapi mereka tak merasa perlu mempertanyakan moralitas mereka sendiri yang menonton perilaku menyimpang tersebut (bahkan membayar untuk itu!).

Kalau saya sih, paling tak tahan pada keluarga yang menyiksa anak itu , kata salah seorang di galeri. Saya rasa, kata orang itu, dia tak akan bertahan lebih lama, sebentar lagi akan mati anak itu. Lalu semua manggut-manggut, memegang gelas wine mereka, para beautiful people....

Pertanyaan apakah yang mereka saksikan itu “nyata” atau “tak nyata” (yang mengandung konsekuensi: kalau “nyata”, lantas apa?) dikembangkan lebih jauh: apakah para pelaku kekerasan dan penyimpangan itu tahu bahwa mereka direkam kamera atau tidak? Apakah mereka sadar kamera, atau tidak? Artinya, apakah mereka tak sadar, sukarela, ataukah memang dibayar? Kalau sampai dibayar, kekerasan yang “nyata” itu jadi intensional, dan, dalam sudut pandang tertentu, tak lagi “nyata” –tapi sekadar pengembangan lebih jauh dari perilaku manggung.

Benarkah demikian? Benarkah kekerasan yang nyata, kongkret, menjadi tak nyata hanya karena ia dipanggungkan, ditelevisikan?

Kita hanya menonton , kata Dandung kepada Gambir. Gambir yang mencoba ikut campur ingin menolong, mencoba menyeberang dari dunia penonton ke sang liyan, hancur jiwanya. Ia tak berdaya menembus jarak mutlak yang disediakan kamera dan monitor televisi. Dandung memberi solusi pragmatis: Gambir harus terus menonton, sampai kamera menangkap petunjuk kongkret, di mana sebenarnya keluarga dan anak tersiksa itu berada dan Gambir bisa menolong.

Joko memilih jarak itu tetap mutlak tak terseberangi. Anak di dalam televisi itu menatap Gambir untuk terakhir kali, dan Gambir tetap tak mampu memasuki dunia sang liyan.

4.

Joko, sebetulnya, juga mengganggu jarak itu di beberapa tempat. Misalnya, di tengah-tengah film, saat kita sudah paham benar bahwa yang terjadi pada si anak di monitor kamera pengintai itu adalah nun “di sana”, tiba-tiba kamera yang merekam dunia Gambir menampilkan si anak yang diikat tangan dan kakinya. Persis scene sebelumnya, seorang perempuan menggambar dengan pensil wajah si anak.

Tentu saja, jarak itu sudah terganggu –dan itulah sebab mengapa Gambir begitu terganggu. Entah bagaimana, sang liyan masuk ke dunianya. Ada coretan “tolong saya” di mana-mana, di tempat-tempat dan keadaan-keadaan musykil, ditujukan pada Gambir. Ada kelebat-kelebat seorang anak berlari. Ada sesuatu yang supernatural dalam intrusi sang liyan ke dunia Gambir. Paling tidak, sesuatu di ambang batas “nyata” dan “tak nyata”. Hantu? Delusi?

Ah, Joko sedang menggoda. Seolah ada sesuatu di situ. Padahal, Joko hanya sedang bermain-main. Ia mempermainkan pakem –pakem film horor, pakem film thriller atau misteri.

Joko –dan Sekar Ayu sebagai sumber cerita– menabur banyak misteri bagi kita: misteri patung-patung milyaran rupiah Gambir, misteri si anak yang tersiksa, misteri pelanggan klinik aborsi, misteri pintu terlarang. Tapi, tiba-tiba saja, cerita ditikungkan ke sebuah jawaban dari bukan misteri-misteri itu. Soal terbesar dalam hidup Gambir, baru di bagian akhir Gambir sadar, adalah apa yang dilakukan istrinya, ibunya, para sahabatnya, bosnya, di belakang punggung Gambir.

Itu, kalau Anda merasa penting untuk mendapat cerita dari film ini. Dengan segala kecanggihan teknis Joko dalam bertutur audio-visual, cerita dan tuturan Pintu Terlarang hampir tak mengejutkan. Pilihan Joko benar ketika akhirnya ia menekankan sensasi slasher dalam film ini. Kapan terakhir kali Anda melihat kepala dibenamkan melalui lubang matanya ke pecahan gelas wine dalam suasana ruang dan etiket penuh citarasa kelas tinggi? Atau, tepatnya, kapan terakhir kali Anda melihat adegan itu di film Indonesia?

Pada akhirnya, cerita adalah kendaraan belaka bagi Joko untuk membenamkan diri dalam keasyikan menjelajah retorika kamera.  


5.

Dan di akhir film, Gambir menatap kita. Ah, maaf, Gambir menatap kamera. Sejenak. Tapi, seperti penuh arti.

Aktor menatap kamera, bicara kepada penonton, adalah teknik yang biasa disebut “meruntuhkan dinding keempat”. Istilah “dinding keempat” diambil dari dunia teater. Untuk setting sebuah panggung, biasa dibangun dinding di belakang, kiri, dan kanan panggung. Ruang untuk dinding keempat dibiarkan kosong, yakni agar penonton bisa melihat ke panggung. Tapi, dinding keempat itu diasumsikan ada, memisahkan antara penonton dan pemain, penonton dan cerita, penonton dengan cerita.

Teknik berbicara dengan penonton di panggung telah berjalan ribuan tahun, sejak drama-drama komedi dan tragedi Yunani Kuno. Shakespeare pun menerapkan teknik ini pada beberapa dramanya. Misalnya, dalam Midsummer Night’s Dream, Puck bicara pada penonton bahwa jika para penonton tak berkenan pada cerita yang mereka tonton, anggap saja itu semua adalah mimpi.

Metode ini (sebetulnya, ada beberapa metode peruntuhan dinding keempat selain bicara pada penonton) diterapkan pula dalam teater tradisional, seperti lenong atau ludruk. Sudah biasa bahwa dalam pertunjukan lenong atau ludruk, para pelawak berbicara pada penonton. Yang menarik adalah pertunjukan TVRI pada 1980-an, Teater Mama, dengan bintang mereka, Mat Solar yang masih muda dan lumayan kurus.

Dalam pertunjukan televisi itu, panggung ditata ala kadarnya, dan ada penonton yang sebetulnya adalah para pemain teater juga. Para aktor utama, yang memerani tokoh-tokoh cerita, sering menyapa dan bertanya pada para penonton: “Hey, penonton....!”. Semua lakon mereka direkam kamera televisi, untuk kita menontonnya di rumah. Dalam pertunjukan TVRI tersebut, teknik peruntuhan dinding keempat digunakan, tapi dinding keempat dipertahankan lewat kamera.

Satu lagi hal menarik. Di tangan Bertolt Brecht, seorang dramawan besar Jerman beraliran politik kiri, teknik peruntuhan dinding keempat itu dinamai Verfremdungseffekt atau efek alienasi/pengasingan. Brecht meminjam teori defamiliarisasi dalam sastra menurut teori formalisme Rusia. Gagasan di balik praktik ini menurut Brecht adalah menciptakan jarak dengan cerita yang dipanggungkan, agar penonton tidak terbenam pada emosi para tokoh-tokohnya, namun tetap mampu bersikap objektif dan rasional dalam menilai cerita dan para tokohnya itu.

Singkatnya, bagi Brecht, pertunjukan teater bukanlah wahana eskapisme bagi para penontonnya. Mereka tidak diminta untuk terlena oleh cerita. Mereka diminta tetap sadar bahwa cerita hanyalah cerita, dan yang lebih penting adalah pemaknaan rasional terhadap cerita yang dipertunjukkan.

Dalam film, efek pengasingan seperti yang diharapkan Brecht dalam peruntuhan dinding keempat itu agaknya tak selamanya disadari. Tujuan kebanyakan film yang menerapkan teknik ini, khususnya di Hollywood, justru lebih condong pada upaya mendekatkan sang film dengan penonton. Dengan kata lain, tujuannya agar dapat berkomunikasi lebih intensif. Paling tidak, agar ada ilusi ”pertunjukan panggung”, ilusi bahwa kamera bukanlah dinding keempat yang lebih mutlak daripada dinding keempat yang ada dalam pertunjukan panggung yang dihadiri penonton dalam ruang sama dengan para pemain.

Peruntuhan dinding keempat banyak dilakukan dalam film-film Marx Bersaudara pada 1930-an. Pada 1950-an, pelawak Bob Hope sering bicara pada penonton dalam film-film serial Road To… (ada enam dalam serial ini). Salah satu yang paling terkenal, dalam Road to Bali, Bing Crosby akan menyanyi, dan Bob Hope menatap penonton (ah, maaf, kamera) dan bicara, “Oke, sekarang Bing mau menyanyi, saatnya Anda keluar dan beli popcorn!”

Salah satu contoh mutakhir eksploitasi peruntuhan dinding keempat ini adalah Alfie (Charles Shyer, 2004). Dalam film remake ini, karakter Alfie (Jude Law) tampak sangat cerewet bicara dengan penonton. Ketika film itu mencoba untuk masuk ke “bawah kulit”, mencoba menggambarkan perasaan terdalam, upaya itu gagal. Seorang tokoh cerita yang gemar sekali bicara pada penonton tak lah (terasa) mungkin untuk memiliki cerita yang “nyata”. Pastilah ia tokoh main-main dari sebuah cerita main-main.

Alfie, karenanya, (kita anggap) tak mungkin punya perasaan “nyata”, yang mampu membuat penonton simpati, terlibat secara emosional, atau mengidentifikasi diri. Alfie adalah sebuah upaya gagal untuk menjadi nyata dalam ketaknyataan. Barangkali, justru ambisi menjadi nyata itulah yang menggagalkan Alfie.

Joko agaknya sutradara yang sangat keberatan dengan pernyataan bahwa film harus bicara tentang “kenyataan (hidup)”, dan lebih mengimani bahwa film adalah “make-believe” atau “rekapercaya”. Padahal, seperti tampak pada dialog-dialog dalam adegan-adegan di galeri, jelaslah bahwa Joko punya pemahaman yang tajam tentang realitas di sekeliling Joko sendiri. Tapi, ia memilih menaruh hal-hal semacam itu, hal-hal yang mengandung “relevansi sosial” itu, di belakang film. Joko lebih masyuk dalam soal gerak-gerik dan penempatan kamera, kostum, dan twist (tikungan) cerita serta soal-soal menyangkut genre dan (istilah favorit Joko) “genre bending”, atau credit title (bagian credit title di awal film Pintu Terlarang sungguh ciamik!).

Bagi Joko –setidaknya, jika kita menonton karya-karyanya, film adalah dunia yang mandiri dari dunia kenyataan penontonnya. Film adalah dunia rekaan murni, tempat para tokohnya bisa jadi Ratu Adil, superhero, atau jagal bergaya keren.

6.

Joko menutup Pintu Terlarang dengan tatapan mata Gambir pada kamera. Tapi, kita ingat, sebelumnya, tokoh Dandung menegaskan bahwa hanya karena dia memandang kamera, bukan berarti dia bicara dengan kamu! Maka, apa makna tatapan itu? Barangkali tak ada.

Gambir hanya menatap kamera, tak kurang dan tak lebih, untuk kemudian melengos dari kamera, melanjutkan hidup fiksionalnya, meninggalkan penonton kembali ke dunia ”nyata”, setelah lampu bioskop menyala.*** 



sumber : Disini
Read More..

2 of 3 memorable movie : 3 hari untuk selamanya


Sutradara Riri Riza
Produser Mira Lesmana
Penulis Sinar Ayu Massie
Pemeran Nicholas Saputra
Adinia Wirasti
Musik oleh Float
Distributor Miles Films








Wah, selamat datang di bagian ke-2 dari trilogi review tentang film paling memorable (versi saya tentunya…). Dalam bagian ke-2 ini saya akan mereview sebuah film hasil kolaborasi Riri Riza dan Mira Lesmana yang berjudul “3 hari untuk selamanya”. Baiklah, tanpa basa-basi yang lama-lama bisa bikin basi, mari ke bagian inti saja.

Adakah diantara anda yang sudah menonton film ini?film ini memang sudah agak lama, film ini direlease tahun 2007. Kalau jawaban anda “sudah”, lalu apa pendapat anda tentang film ini?saya telah bertanya kepada 5 dari 7 orang teman saya yang sudah menonton film ini. Tahukah anda jawaban mereka?mereka menjawab dengan datarnya “biasa aja ah, nothing special”.

Film ini berkisah tentang dua orang bersaudara, yaitu Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti). Yang diberi amanat untuk mengantar piring untuk tradisi widodareni (semoga saya tidak salah tulis)/malam sebelum pernikahan kakaknya Ambar ke Yogyakarta.
Sebenarnya hanya Yusuf yang ditugasi membawanya lewat jalur darat (karena ibunda Ambar tak percaya kalau dibawa dengan pesawat), namun karena satu hal, Ambar ketinggalan pesawat.
Jadilah mereka berdua menempuh jalan darat menuju Yogyakarta. Perjalanan harusnya ditempuh hanya dalam waktu 1 hari, namun karena satu dan lain hal perjalanan itu molor menjadi 3 hari…dan cerita dimulai.sekian

Film ini memang terlalu “biasa” untuk sebagian orang, tapi buat saya justru karena terlalu “biasa”, makanya saya anggap jadi luar biasa (lebay!) tema film ini memang sederhana sekali, perjalanan dua orang bersaudara, Yusuf sudah kuliah sedangkan Ambar baru lulus SMU. Terlihat sekali sutradara disini ingin mentabrakan 2 orang dengan karakter yang sangat berbeda.
Ambar terkesan sangat manja dan kekanak-kanakan, sedangkan Yusuf sikapnya sangat dewasa dan “ngemong” banget. Tapi keduanya punya kesamaan, suka nge-fly

Dalam film ini, memang terkesan sangat datar dan lama sekali tanpa ada klimaks ataupun adegan-adegan kejutan sepanjang film diputar. Hanya celoteh-celotehan wajar anak muda yang tertutur sepanjang perjalanan mereka. Hal ini pasti akan membuat sebagian dari anda bosan.
Dan juga film ini ber-rating 18+, bukan karena banyak adegan tidak senonoh yang ditampilkan. Melainkan penggunaan ganja atau “baks” secara eksplisit dan dengan intensitas yang tidak sedikit.

Dalam film ini, kita akan melihat perjalanan mereka menuju Yogyakarta melalui jalan tol cipularang, lewat jalur selatan dan akhirnya masuk ke pantura juga. Sepanjang jalan, sutradara sama sekali tidak mengekspos keindahan-keindahan seperti kebanyakan film. Semua pemandangan yang kita lihat sepanjang film di-shoot dengan apa adanya tanpa dibuat-buat.
Kalaupun ada yang dibuat-buat, ada satu adegan dimana Yusuf sangat mengantuk dan dia berhalusinasi melihat babi, gajah dan macan lewat di depan mobilnya.
Segala pemandangan yang kita lihat sepaerti kuburan di pinggir jalan, penjual batu nisan, kecelakaan, peminta sumbangan masjid, dan pawai anak sekolah itu sering kita lihat di sepanjang jalur pantura.
Jadi, anda sudah tahu dimana letak keistimewaan film ini, bukan?

Sepanjang film, anda akan ditemani soundtrack yang diisi oleh band Indonesia yang bernama “float”. Lagunya easy listening, groovy, dan sangat cocok di tiap scene dalam film ini. Lagi-lagi penata suara bekerja sangat baik di film ini.
Satu hal yang mengganggu jalan cerita adalah adanya beberapa scene yang terpotong (katanya karena terlalu vulgar), tapi percayalah pada saya, kealphaannya beberapa scene ini akan membuat anda sangat penasaran dan yang pasti mengganggu kenikmatan menonton anda.
Tapi saya mengira-ngira salah satu scene yang hilang itu adalah adegan gempa di Yogya, itu terlihat karena setelah layar hitam yang menyeblkan tampil, Yusuf sudah sampai di Yogya dan terlihat ada beberapa bangunan yang rata dengan tanah.

Menurut saya, film ini patut diberi rating 7/10, meskipun ada beberapa scene yang terpotong dan membuat saya sampai sekarang penasaran, film ini tetap istimewa buat saya. Dan salah satu ciri khas Riri riza adalah idealismenya dalam membuat film yang selalu memberi "pesan" ketimbang sekedar mengejar komersialisma. sekian review acak-acakan ala newbie.
Read More..

Jumat, 23 September 2011

Masih bilang film Indonesia gak mutu?Read This Carefully

Dibawah ini, ada beberapa film anak negeri yang akan membuat kita bangga dan mengaku cinta film Indonesia(Naif sekali anda!).
Beberapa film dibawah ini sudah pernah saya tonton, bahkan untuk berulang-ulang kali dan saya sampai memburu copy originalnya yang mulai sulit dicari. Itulah saya...Anda?







Madame X (2010) adalah debut penyutradaraan Lucky Kuswandi yang menjadi official selection pada Hongkong International Film Festival 2010 serta mendapatkan nominasi best production design untuk Eros Eflin dan best supporting actress untuk Shanty pada Asian Film Awards 2011.









Rumah Dara (2010) merupakan debut penyutradaraan Mo Brothers, film ini adalah versi panjang dari film pendek mereka sebelumnya Dara, yang menjadi bagian antologi Takut (2007). Shareefa Daanish yang memerankan Dara berhasil mendapatkan Best Actrees pada Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan) 2009 di Korea Selatan.








Garuda di Dadaku (2009) hasil karya duet Salman Aristo dan Ifa Isfansyah yang diproduseri oleh Shanty Harmain diberikan penghargaan Best Film pada penyelenggaraan ke 6 Children and Youth Armenia International Film Festival 2010.









Sang Pemimpi (2008) yang merupakan sekuel Laskar Pelangi (2007) berhasil memboyong Audience Award dari Udine Far East Film Festival 2010 di Italia dan NETPAC Critics Jury Award dari Singapore International Film Festival 2010. Dan yang paling terbaru adalah berhasil meraih Premio Juvenile Award Fici Children Intenational Film Festival Madrid 2010.









Merantau (2009) menjadi Best Film ActionFest International Film Festival 2010, Sebuah penghargaan film aksi tahunan yang digelar di Asheville, North Carolina Amerika Serikat pada 15-18 April 2010. Merantau berhasil mengungguli kandidat lainnya seperti film silat Hong Kong yang dibintangi Donnie Yen, 14 Blades.








Jamila dan Sang Presiden (2009) karya Ratna Sarumpaet yang pernah dikirim untuk Academy Award Best Foreign Film 2009 menyabet dua penghargaan dalam Asian Film Festival Vesoul 2010 di Perancis. Dua penghargan itu yakni Prix de Public dan Prix Jury Lycen. Penghargaan lain adalah Best Original Score Asia Pacific Film Festival 2010 untuk Thoersi Argeswara.








Perempuan Berkalung Surban (2009) karya Hanung Bramantyo menerima penghargaan Best Supporting Actress Asia Pacific Film Festival 2010 untuk aktris senior Widyawati









Pintu Terlarang (2009) karya terakhir Joko Anwar menjadi Best Film dalam Puchon International Fantastic Film Festival 2009 dan official selection Golden Kinnaree Award untuk Bangkok International Film Festival 2009. Bahkan pada tahun 2009 film ini menjadi salah satu dari 100 film terbaik dunia versi majalah “Sight and Soung” Inggris.









Tiga Doa Tiga Cinta (2008) karya perdana Nurman Hakim dinominasikan sebagai Best Children’s Feature Film pada Asia Pacific Screen Awards 2009. Meraih Grand Prize of International Jury pada Vesoul Festival of Asian Cinema 2009.









Laskar Pelangi (2007) adalah adaptasi dari novel berjudul sama oleh Riri Riza dan Mira Lesmana yang mendapatkan nominasi untuk 2 Kategori utama pada penyelenggaraan ke 3 Asian Film Awards yang digelar di Hongkong, yaitu Best Editing untuk Dono Waluyo dan Best Film. Untuk nominasi film terbaik Laskar Pelangi bersanding dengan Ponyo (Jepang), The Good the Bad the Weird (Korea Selatan), Tokyo Sonata (Jepang), Red Cliff (Hongkong) dan Forever Entralled (China). Laskar Pelangi juga mendapatkan Signis Award dalam Hongkong International Film Awards 2009. Penghargaan The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Films for Children and Young Adults, di Hamedan, Iran. Awal tahun 2010 lalu film ini kembali mendapatkan penghargaan, kali ini untuk Cut Mini sebagai Best Actress pada Brussels International Independent Film Festival. Dan yang paling terbaru adalah menjadi Best Film pada Asia Pacific Film Festival 2010.









The Blind Pig Who Wants to Fly (2008) adalah feature film perdana karya Edwin. Film yang di bintangi oleh Ladya Cheryl ini juga menjadi Official Selection dalam Pusan International Film Festival 2008, menjadi official selection Tiger Award Competition pada 2009 Rotterdam Film Festival dan mendapat penghargaan untuk Fipresci Prize, pada festival yang sama. Penghargaan Firepsci Prize kembali diraih film ini dari Singapore International Film Festival 2009, selain itu. Serta meraih Silver Montgolfiere dan Young Audience Award dari Nantes Three Continent Festival 2009.









Fiksi (2008) yang merupakan film feature perdananya Mouly Surya, memenangkan penghargaan Best Director dari Jakarta International Film Festival 2008 untuk Indonesia Feature Film Competition. Selain itu Fiksi juga diputar dibeberapa festival film international lainnya seperti di Pusan International Film Festival, NewYork Asian Film Festival.









The Photograph (2007) dibesut oleh sutradara wanita, Nan T. Achnas yang dibintangi oleh aktor senior Singapore Lim Khay Thong dan Shanty ini menyabet dua penghargaan pada penyelenggaraan ke 43 Karlovy Vary International Film Festival yang diselenggarakan tanggal 4-12 July 2008 di Karlovy Vary, Republik Ceko. The Photograph menyabet Special Jury Prize yang merupakan pemenang kedua dan penghargaan Ecumenical Jury Award di festival film paling bergengsi di Republik Ceko. Film The Photograph tersebut merupakan satu-satunya film dari Asia yang mendapat dua penghargaan sekaligus.









Tiga Hari untuk Selamanya (2007) dari sutradara Riri Riza menerima Best Director dari Brussels International Independent Film Festival 2008.







Opera Jawa (2006) dari Sutradara Garin Nugroho memenangkan Best Original Score untuk Rahayu Supanggah pada penyelengaraan perdana Asian Film Awards 2007. Opera Jawa juga dinominasikan untuk Best Film yang bersaing dengan The Host (Korea), Love and Honor (Jepang), Exiled (Hongkong), Still Life (China) dan Curse of the Golden Flower (China). Nominasi Best Film dari Asia Pacific Screen Awards 2007. Menang Silver Screen Award Singapore International film Festival 2007. Serta juga menerima penghargaan Best Actress untuk Artika Sari Devi pada Brussels International Independent Film Festival 2008.









Denias Senandung di Atas Awan (2006) karya Jhon de Rantau berhasil menjadi yang terbaik untuk kategori Best Children’s Feature Film Asia Pacific Screen Awards 2007 serta meraih Best Film pada Indonesia Feature Film Competition Jakarta International Film Festival 2006.








Berbagi Suami (2006) yang didaftarkan untuk Academy Awards Best Foreign Film 2007, mendapat penghargaan Golden Orchid Award sebagai film terbaik pada Hawaii International Film Festival 2006, mengalahkan film-film dari 47 negara yang berkompetisi. Sementara di Belgia pada Brussel International Independent Film Festival 2007, Nia Dinata dipredikatkan sebagai Best Director (Prix de la meilleure RĂ©alisation).








Gie (2005) yang diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya sutradara Riri Riza, mendapatkan Best Asian Feature Film pada Singapore International Film Festival 2006 dan Special Jury Award dari Asia Pacific Film Festival 2006








Janji Joni (2005) karya perdana Joko Anwar mendapatkan penghargaan Best Editing pada Asia Pacific Film Festival 2005







Banyu Biru (2005) dari sutradara Teddy Soeriaatmadja menerima Most Promosing New Actress untuk Dian Sastrowardoyo Asia Pacific Film Festival 2005.







Ungu Violet (2005) debut penyutradaraan Rako Prijanto menerima Best Supporting Actress untuk aktris senior, Rima Melati dan nominasi Best Actress untuk Dian Sastrowardoyo









Kara Anak Sebatang Pohon (2005) karya Edwin menjadi film pendek Indonesia pertama yang secara resmi diputar pada Cannes Film Festival 2005 untuk Director’s Fortnight







Rindu Kami Padamu (2004) karya Garin Nugroho meraih penghargaan Best Film Cinefan – Festival of Asian and Arab Cinema 2005.









Impian Kemarau (2004) karya sutradara Ravi Bharwani meraih penghargaan Asian New Talent Award pada Shanghai International Film Festival 2004. Film ini juga mendapatkan nominasi Best Film pada Pusan International Film Festival, Bangkok International Film Festival dan Vladuvostok International Film Festival. Selain itu juga menjadi Official Selection pada Rotterdam International Film Festival, Barcellona Asian Film Festival, Split International Festival of New Film, Zanzibar International Film Festival dan Cork International Film Festival.









Biola tak Berdawai (2003) yang merupakan debut Sekar Ayu Asmara menerima penghargaan Best Actress pada Asia Pacific Film Festival 2003. Tahun 2004 film ini dipilih untuk mewakili Indonesia untuk Academy Awards Best Foreign Film.









Ca Bau Kan (2002) adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya Remy Silado yang juga merupakan debut penyutradaraan Nia Dinata. Nia meraih penghargaan Best New Director pada Asia Pacific Film Festival 2002. Film ini juga menerima penghargaan Best Art Direction pada festival yang sama.









Eliana-Eliana (2002) karya Riri Riza mendapatkan penghargaan Best New Director pada Singapore International Film Festival 2002, serta penghargaan Dragon & Tiger Awards pada Vancouver International Film Festival 2002. Jajang C. Noer yang berperan sebagai ibu dari Eliana menerima penghargaan Best Actress pada Cinemaya Festival of Asian Cinema 2002 di New Delhi, India. Sedangkan untuk duet akting cemerlang Rachel Maryam dan Jajang C. Noer juga menerima penghargaan Best Actress pada Daeuville International Film Festival 2003.









Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) karya sutradara Garin Nugroho yang dibintangi aktris Lulu Tobing menerima penghargaan Netpac Award Berlin International Film Festival 2003








Pasir Berbisik (2001) yang merupakan karya kedua Nan T. Achnas setelah Kuldesak (199) menerima Most Promosing Director, Best Cinematography untuk Yadi Sugandi dan Best Sound untuk Phil Judd dan Hartanto dari Asia Pacific Film Festival 2001. Film ini juga menerima Netpac Award Special Mention pada Brisbane International Film Festival 2002, Fipresci Award pada Oslo Films from the South Festival 2002 dan Asian Trade Winds Special Jury pada Seattle International Film Festival 2002. Aktris Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai menerima penghargaan Best Actress pada Deauville Asian Film Festival 2002, di Perancis dan Singapore International Film Festival 2002, selain juga nominasi untuk Best Asian Feature pada festival yang sama. Film ini menjadi Official Selection pada Rotterdam Film Festival 2002.









Puisi Tak Terkuburkan (2000) karya sutradara Garin Nugroho mendapatkan penghargaan Silver Leopard Locarno International Film Award 2000 dan Nominasi Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival









Sumber : Ada Disini
Read More..

1 of 3 memorable movies : Janji Joni

Sutradara Joko Anwar
Produser Nia Di Nata
Penulis Joko Anwar
Pemeran Nicholas Saputra
Mariana Renata
Rachel Maryam
Dwiky Riza
Distributor Kalyana Shira Film








Wew, ini adalah kali pertama saya menulis di blog selain tulisan-tulisan tugas kuliah yang ngebosenin itu.
Saya berencana membuat trilogi tulisan film-film Indonesia yang paling membekas/memorable di ingatan saya. Untuk permulaan saya memilih film dengan judul “Janji Joni”. Meskipun film ini sudah agak jadul(2005), tapi seperti saya bilang tadi, film ini adalah salah satu yang memorable dalam ingatan saya. Tanpa banyak basa-basi, inilah review alakadarnya ala newbie.

“Saya yakin selama ini banyak dari anda hanya duduk manis di bioskop dan menikmati tiap scene dari film dan hanya menuntut film yang akan kita tonton diputar tepat waktu, tapi tahukah anda siapa yang menentukan anda bisa nonton film di bioskop atau tidak?pengantar rol film.”

sinopsis

Film hasil kolaborasi Nia Dinata dan Joko Anwar(tahukah anda?Joko Anwar adalah sutradara kegemaran saya) bercerita tentang seorang laki-laki muda berusia 22 tahun dan belum pernah pacaran bernama Joni yang bekerja paruh waktu di bioskop sebagai pengantar rol film (Nicholas Saputra) yang berteman baik dengan seorang projeksionis (Alm.Gito Rollies). Suatu ketika ia bertemu dengan seorang wanita cantik di bioskop yang diketahui bernama angelique (Mariana Renata). Dengan malu-malu, Joni menegur wanita (tentu saja untuk tahu namanya juga!) tanpa mempedulikan cowok yang ada di samping wanita itu yang bernama Otto (Surya Saputra), namun apa yang terjadi?wanita itu hanya akan memberitahu namanya setrlah Joni mengantarkan rol film yang akan ia tonton tepat waktu. Dengan wajah sumringah dan pertimbangan selama setahun belakangan Joni tak pernah telat, Joni menyetujui persyaratan itu. Tapi usaha Joni untuk tepat waktu tak berjalan mulus, karena seolah-olah seluruh isi kota bersatu padu untuk menghancurkan janji si Joni terhadap wanita itu. Sekian(karena saya tak ingin membocorkan elemen surprise dalam film ini.)

Bertabur bintang

Selain Nicholas Saputra dan Mariana Renatasebagai tokoh utama, masih banyak segudang bimtang-bintang film muda dan yang sudah kawakan yang hanya menjadi icing sugar/pemanis/figuran tepatnya dalam film ini yang memberikan elemen surprise dalam film ini. Sebut saja Tora Sudiro, Winky Wiryawan, Aming, Indra Herlambang, Ronald Surapradja, Ria Irawan, Jajang C Noer, dll yang pasti bikin anda cengar-cengir saat menonton film ini.
Dari beberapa artis yang jadi figuran dalam film ini, entah kenapa saya paling tidak suka dengan Ria Irawan yang berperan sebagai sutradara. Saya menganggap aktingnya terlalu lebay/berlebihan, tapi mungkin anda ada yang menganggap itu adalah sebuah totalitas yang ingin ditunjukan oleh bintang kawakan sekalibernya?itu persepsi anda masing-masing.
Dan yang paling saya suka adalah Tantowi Yahya yang berperan ciamik sebagai dokter, aktingnya natural sekali dan sedikit bisa mencairkan suasana yang mulai tegang.

Soundtrack yang tak pasaran

Soundtrack dalam film ini sangat-sangat pas dan mendukung sekali setiap situasi yang ditampilkan dalam film ini. Tak main-main, 12 band indie yang mengisi soundtrack dalam film ini, antara lain The Adams, Teenage Death Star, Sore, Sajama cut, dll.
Penata suara yang sangat jeli memilih mereka sebagai pengisi soundtrack, lagu-lagu mereka bagus dan tidak pasaran. Saya yakin, setelah menonton film ini anda akan ingin mendengarkan soundtrack-soundtrack film ini secara utuh (seperti saya)

Dialog bermutu dan “menyentil”

Sebaiknya jika anda ingin menonton film ini, siapkan pendengaran anda sesiap-siapnya karena dalam film ini tak ada sedikitpun dialog yang terucap sia-sia antarpemain. Contoh pada saat Aming yang menceramahi Otto yang ingin nitip tiket : “konsep mengantre itu diciptakan ada pointnya loh, supaya yang dateng duluan bisa dapet tiket duluan. Buat apa ngantri kalo kita bisa main titip”
Contoh diatas adalah salah satu dari puluhan dialog-dialog bermutu yang diucapkan antarpemain dlam film ini.
Menurut saya, film ini adalah film dengan dialog terbaik.

Aspek sosial

Kisah yang diangkat dalam film ini simpel dan sederhana. Yaitu bagaimana realitas sosial dewasa ini digambarkan dengan bahasa-bahasa yang lugas dan dialog-dialog “menyentil”. Joni disini digambarkan sebagai pahlawan dari kelas rendah yang menjadi penentu seseorang bisa nonton film di bioskop atau tidak. Joko berusaha mengangkat profesi yang luput dari perhatian orang.
Joko juga tak hanya mengangkat satu profesi saja. Ia juga menggambarkan bagaimana karakter orang-orang yang bekerja dibalik film seperti produser, sutradara, kameramen, artis, dan penulis skenario. Semua karakter itu dituturan secara sekilas, padat, dan cerdas oleh Joko.
Rangkaian insiden yang dialami Joni secara implisit ingin memparodikan realitas sosial dewasa ini. Intinya adalah bahwa orang yang berniat baik seringkali malah menjadi korban. Hal ini nampak pada adegan Joni yang menolong orang buta menyeberang malah dicuri motornya.


Setting

Sepertinya Joko ingin membawa ingatan kita kembali ke tahun 70-an, lihat saja dari gaya berpakaian Joni yang pakai celana jeans "agak" ketat, gaya rambut Angelique yang kriting-kriting lucu itu.hahahahaha 
dan juga ada beberapa figuran biasa yang berlalu-lalang di jalan dengan memakai celana jeans cutbray, dll
kemudian kita bisa lihat bioskop tempat Joni bekerja, ya!anda benar, itu Metropole. yang saya tahu sekarang Metropole sudah keren banget, tapi apakah pada tahun pembuatan film ini gedungnya jadul begitu?atau "dijadulkan?" ah, sudahlah!ini memang pintar2nya kang Joko.



Sekian review acak-acakan dan ngawur ala newbie, film ini saya beri rating 8/10.

Pada akhirnya, saya terpaksa mengakui kejeniusan Joko Anwar yang mengangkat tema yang cerdas pada film Janji Joni ini. Tema yang tidak umum, soundtrack ciamik, cameo-cameo menawan dan menurut saya, siapapun yang menonton film ini pasti akan terbawa oleh ceritanya dan lupa dengan masalah hidup dan hutang-hutangnya. Sekian

Read More..